Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia [ jilid 2: Maret 1946-Maret 1947]

Judul: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia [ jilid 2: Maret 1946-Maret 1947]
Penulis: Harry A. Poeze
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Cover: Soft
Bahasa: Indonesia
Harga: Rp. 90.000

Menjelang kapitatulasi Jepang ia diutus ke Jakarta. Ia tidak diberi peranan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, toko Tan Malaka yang legendaris ini berkenalan dengan pemimpin-pemimpin Republik Indonesia: Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Ia memberi kesan yang mendalam dan segera terlibat dalam pembentukan kebijakan di tingkat tertinggi. tetapi segera pula mereka tidak sejalan. Tan Malaka menghendaki sikap tak mau berdamai dengan Belanda yang ingin memulihkan kembali kekuasaan kolonialnya. Ia memilih jalan 'perjuangan' dan bukan jalan 'diplomasi'. Januari 1946 Tan Malaka mendirikan
Persatoean Perdjoeangan, yang dalam beberapa bulan menjadi alternatif dahsyat terhadpa pemerintah moderat. Dengan konforntasi di Parlemen ia kalah dan beberapa minggu kemudian Tan Malaka dan sejumlah pengikutnya ditangkap dan ditahan tanpa proses sama sekali -- dari Maret 1946 sampai Desember 1948. Tan Malaka selalu dihadapkan dengan empat sekawan pimpinan Soekarno-Hatta, Sjahrir, dan Amir Sjarifoeddin serta gerakan komunis-sosialis yang berpengaruh dan yang menuduh Tan Malaka sebagai penganut Trotsky.

Jilid kedua biografi Tan Malaka menggambarkan secara rinci nasib Tan Malaka dan pengikutnya dalam tawanan. Ia ditahan sebagai dalang dibalik Peristiwa 3 Juli 1946 untuk menyelubungi fakta bahwa peristiwa itu sebetulnya menyerupai kup Panglima Besar Soedirman yang ingin berkuasa. Dalam risalah yang menegangkan rahasia Peristiwa 3 Juli diungkapkan . Walaupan Tan Malaka masih dalam tawanan, teman-teman sehaluannya berhasil muncul sebagai oposisi melawan Perjanjian Linggarjati yang dianggap sebagai kapitulias terhadap Belanda. Akan tetapi semuanya berakhir dengan kekalahan lagi. [YI]