Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia [jilid 3: MAret 1947 - Agustus 1948]

Judul: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia [jilid 3: MAret 1947 - Agustus 1948]
Penulis: Harry A. Poeze
Penerbit: Yayasan Obor
Cover: Soft
Bahasa: Bahasa
Harga: Rp. 95.000

Tan Malaka [1894-1949] pada tahun 1942 kembali ke Indonesia menggunakan nama samaran sesudah dua puluh tahun mengembara. Pada masa Hindia Belanda ia bekerja untuk Komintern [organisasi komunis revolusioner internasional] dan pasca 1927 mempimpin Partai Repoeblik Indonesia yang ilegal dan antikolonial.

Ia tidak diberi peranan dalam proklamasi
kemerdekaan Indoensia. Sementara itu tokoh Tan Malaka yang legendaris ini berkenalan dengan pemimpin-pemimpin Republik Indonesia: Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Tetapi segera pula mereka tidak sejalan. Tan Malaka mengehendaki sikap tak mau berdamai dengan Belanda yang ingin memulihkakembali kekuasaan kolonialnya. Ia memilih jalan 'perjuangan' dan bukan jalan 'diplomasi'. Ia mendirikan Persatoean Perdjoeangan yang dalam beberapa bulan menjadi alternatif dahsyat terhadap pemerintah moderat. Dalam konfrontasi di Parlemen ia kalah dan beberapa minggu kemudian Tan Malaka dan sejunlah pengikutnya ditangkap dan ditahan tanpa proses sama sekali-- dari Maret 1946 sampai September 1948. Ia juga dituduh terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946 yang oleh sebagian besar orang dianggap sebagai kudeta.

Dalam periode yang dibicarakan dalam jilid 3 ini Tan Malaka masih mendekam di p[enjara, namun demikian ia memiliki kesempatan untuk menulis. Sementara itu para pengikutnya sekali lagi terorganisir dalam Gerakan Revolusi Rakjat. Terdapat indikasi mungkin ia akan dibebaskan. Tan Malaka di dalam sel menulis autobiografi dalam tiga jilid Dari Pendjara ke Pendjara. Sebuah analisis mendalam menunjukkan bahwa autobiografi Tan Malaka dapat ditafsirkan dalam berbagai cara. Dalam jilid ketiga ini terdap[at pula banyak perhatian terhadap proses pengadilan raksasa yang berlangsung dari Februari-Mei 1948. Dalam proses tersebut sejumlah besar politisi terkemuka diadili. Ia merupakan proses politik unik yang tidak pernah ada taranya di Indonesia.  [YI]