Materialisme Dialektis (Martin Suryajaya)


Judul buku: Materialisme Dialektis - Kajian Tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer
Penulis: Martin Suryajaya
Penerbit: Resist Book Yogyakarta
ISBN: --
Jenis Cover: Soft Cover
Halaman: 337 halaman
Text Bahasa: Indonesia
Harga: Rp. 55.000


Filsafat kontemporer tengah dilanda krisis. Hegemoni pascamodernisme selama nyaris setengah abad kian memudar. UNgkapan-ungkapan seperti 'tak ada sesuatupun di luar teks', 'realitas hanyalah efek diskursus', 'kebenaran hanyalah perkara kekuasaan' dan'pengutamaan pada Sang Liyan' yang dulu diterima hampir setiap orang tanpa dipertanyakan, kini mulai kehilangan daya analitiknya. Orang mulai letih dengan repetisi frase-frase semacam itu dan mulai mempertanyakan kembalis segala yang dulu diyakini begitu saja sebagai 'iman pascamodern'. Muncul filsuf-filsuf seperti Alan Badiou, Slavoj Zizek dan Quentin Meillassoux yang menggungat dogma-dogma dasar filsafat pascamodern. Badai perdebatanpun mengiringi proses tumbangnya hegemoni pascamodern.

Buku ini hadir tidak untuk meratapi tumbangnya hegemoni setengah abad itu, melainkan
untuk memahami mengapa keruntuhan ini tak terelakkan. Sebagai sebuah karya polemik, buku ini memuat kritik sistematik atas filsafat kontemporer dalam berbagai variannya, mulai dari dekontruksionisme Derrida, fenomenologi Husserl, pascamarxisme Laclau-Mouffedan otonomisme Negri-Hardt. Kita akan mempelajari bagaimana filsafat kontemporer mengandung kontradiksi yang tak terpecahkan olehnya sendiri. Kontradiksi itu menunjukkan kebuntuan pascamodernisme sekaliagus kemestian bagi kelampauannya. Buku ini berargumen bahwamaterialisme dialektis adalah satu-satunya solusi logis atas kontradiksi internal filsafat kontemporer. Pelampauan ataskrisis filsafat kontemporer hanya dimungkinkan melalui rehabilitasi materialisme dialektis atau filsafat Marxisme. Dengan demikian, terbukalah suatu zaman baru dalam sejarah filsafat kontemporer. Lewat pembongkaran kekeliruan cara berpikir yang melanda kaum intelektual dan aktivis gerakan sosial selama musim pascamodern, buku ini mencoba membangun paradigma dimana kebenaran obyektif dan politik emansipatoris justru saling mengandaikan.