Das Kapital - Sebuah Buku Yang Mengubah Dunia (Francis Wheen)

Judul Buku: Das Kapital - Sebuah Buku Yang Mengubah Dunia
Penulis: Francis Wheen
Penerbit: Marjin Kiri
Teks Bahasa: Indonesia
Harga: Rp. 35.000


Buku karya Francis Wheen ini bisa menjadi “pencipta hasrat” untuk membaca buku monumental karya Marx, Das Kapital. Wheen, dalam bukunya itu, berhasil menyuguhkan suatu cerita yang menarik tentang sisi-sisi lain dibalik penulisan Das Kapital.



Pada bulan Februari 1867, sesaat sebelum mengirim jilid pertama Das Kapital, tulis Wheen dalam Pendahuluan bukunya, Marx menyuruh Engels membaca Le Chef-d’oeuvre inconnu (Mahakarya Tak Dikenal) karya Hanore de Balzac. Novel pendek tersebut adalah sebuah mahakarya kecil yang di dalamnya, menurut Marx, penuh ironi yang paling nikmat.

Le Chef-d’oeuvre inconnu bercerita tentang Frenhofer, seorang pelukis besar yang menghabiskan waktu selama 10 tahun untuk menggarap berulangkali lukisan potret yang mampu merovolusi seni rupa dengan menyajikan “representasi realitas yang paling utuh”. Padahal, pelukisnya sendiri tidak yakin akan karya besarnya—dengan melukisnya berulangkali  hingga tak menyisakan apa-apa.

“Tidak ada apa-apa di kanvasku!” jerit Frenhofer, sambil membolak-balik lukisannya. “Tidak ada apa-apa! Tidak ada apa-apa! Padahal aku sudah melukisnya sepuluh tahun!”

Maksud Marx memberkan novel karya Balzac kepada Engels, melalui buku Wheen ini, bisa ditebak bahwa Marx ingin memberi tahu sahabatnya, Engels, tentang suasana hatinya: bahwa ia sudah bertahun-tahun membanting tulang untuk mengerjakan bukunya tetapi, ketika dirasa sudah selesai, tetap saja terasa masih ada yang kurang.

Dan seakan tepat, apa yang disuguhkan oleh Wheen dalam bukunya—tentang suasana hati Marx saat menggarap Das Kapital—memang pernah terjadi pada Marx. Penulisan Das Kapital digambarkan sebagai proses penulisan yang teramat sulit dan memakan waktu bertahun-tahun, hingga Marx “tak yakin” dengan “kesempurnaan” bukunya.

Memang, jilid pertama Das Kapital bisa selesai dan bisa terbit saat Marx masih hidup, tetapi jilid selanjutnya tidak selesai hingga Marx meninggal. Jilid kedua dan ketiga disusun oleh Engels berdasarkan catatan-catatan dan rancangan-rancangan yang tertinggal di meja Marx.

Jelas, Das Kapital adalah mahakarya raksasa yang tersiksa, tulis Wheen. Maka, untuk menghampiri mahakarya raksasa yang tersiksa itu kita perlu mencari tahu terlebih dahulu sumber-sumber siksaannya dan mata air inspirasinya.

Dapatkan buku ini di TB. Buruh Membaca, segera! (JSA)